Minggu, 30 Desember 2012

Melihat Pemukiman Purbakala di Pedalaman Aceh Utara


Oleh : atjehpost



PEDALAMAN Mbang, di Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara memiliki potensi kepurbakalaan yang luar biasa. Kesimpulan itu buah dari hasil survei tim peneliti Central Information for Samudra Pasai Heritage atau CISAH.
Di sana, CISAH yang diketuai Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam, menemukan komplek Hunian Megalitik. Tinggalan prasejarah yang fenomenal, di kawasan itu antara lain batu peta, batu berbentuk seperti kobaran api, dan punden berundak.
Temuan itu berawal dari penelusuran yang diberi nama Ekspedisi Meugat Seukandar. Di mana, sejak tahun 2010, Taqiyuddin dan kawan-kawan berusaha menemukan pusat pemukiman Islam di pendalaman Aceh Utara, yaitu pemukiman sebelum berdirinya kota Samudra Pasai di pesisir, yang sejauh ini belum berhasil dideteksi.
Sebagaimana disebutkan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai atau Kronik Pasai, salah satu bekas pemukiman kuno di pedalaman bekas kerajaan Samudra Pasai ialah kota kerajaan Buluh Telang yang penguasanya adalah Meugat Seukandar. Itu sebabnya, kegiatan penelitian tim CISAH mengambil nama Ekspedisi Meugat Seukandar.
***
Hasil survei dan observasi di kawasan Mbang, tim peneliti CISAH memastikan adanya sebuah situs peninggalan prasejarah, di pedalaman Aceh Utara yang berjarak lebih kurang 30 km dari Kota Lhokseumawe. Survei dilakukan setelah tim memperoleh informasi dari dua informen sekaligus anggota CISAH di Mbang, Muhammad Rizal (23) dan Nasruddin (23), tentang adanya komplek pemakaman kuno, di areal perkebunan PT Satya Agung bersebelahan dengan Desa Uram Jalan, Mbang.
Dari observasi itu, kata Taqiyuddin Muhammad, ditemukan benda-benda tinggalan sejarah yang tak lazim dijumpai pada komplek makam kuno Samudra Pasai. Tinggalan sejarah tersebut berupa sebuah bangunan yang lazim disebut dengan “punden berundak”. Yaitu, bangunan terbuat dari susunan batu di sebuah bukit atau gunung yang memiliki tingkat-tingkat atau teras-teras (berundak).
Punden berundak merupakan tempat pemujaan tradisi megalitikum yang berada di tempat-tempat tinggi sesuai kepercayaan masyarakat pendukung kebudayaannya,  di mana roh-roh suci berada di tempat-tempat yang tinggi. “Dari hasil pemantauan sementara, bebatuan susunan punden berundak Uram Jalan ini, rata-rata, dari jenis batu lempung yang memang lumrah digunakan untuk bangunan semisalnya di Nusantara,” kata Taqiyuddin, beberapa waktu lalu.
Bangunan prasejarah ini beorientasi dari utara ke selatan menghadap ke arah pegunungan. Sebelah selatannya berbatasan dengan aliran sungai Krueng Jawa dan timur-baratnya dengan bukit lain. Sementara di arah utara, kata Taqiyuddin, yang diperkirakan terdapat bagian masuk bangunan tersebut belum diketahui secara pasti. Dugaan sementara di sebelah utara punden terdapat sebuah alur air yang melintang dari daerah perbukitan di barat dan gampong Uram Jalan di timur.
“Sejauh pengetahuan kami bangunan punden berundak ini merupakan tinggalan prasejarah yang pertama ditemukan dalam jenisnya di Provinsi Aceh. Namun demikian, tim juga telah melakukan survei ke beberapa tempat di pesisir utara Aceh yang memiliki potensi tinggalan prasejarah serupa,” katanya.
Di situs prasejarah yang berada pada koordinat 05°00 LU dan 97°05 BT serta berketinggian sekitar 122 meter di atas permukaan laut ini juga terdapat banyak menhir, terutama di bagian puncak bukit. Menhir yang sempat ditemukan rata-rata berukuran panjang sekitar 80 cm dan diameter lebih kurang 30-40 cm. Diperkirakan, di lokasi tersebut akan ditemukan menhir-menhir yang berukuran lebih besar dari itu.
Selain itu, di lokasi situs, pada bagian yang hampir ke puncak punden, ditemukan pula artefak berupa beberapa peralatan megalit (kapak, penetak serta lainnya) terbuat dari batu andesit yang berserakan di permukaan tanah. Peralatan tersebut sepertinya telah digunakan untuk suatu proses ritual dalam kebudayaan megalitikum. Meski demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa punden berundak Uram Jalan ini juga telah digunakan di zaman Budha atau Hindu.
“Hal ini ditunjukkan oleh adanya beberapa nisan pahatan zaman Islam Samudra Pasai atau barangkali sebelumnya, yang gaya pemahatannya sangat dipengaruhi tradisi percandian dalam kebudayaan Hindu,” kata Taqiyuddin.
Pada bukit sebelah barat laut punden juga ditemukan pecahan-pecahan tembikar yang diduga berasal dari penghuni pemukiman zaman Islam pada abad ke-13 M. Pada bukit yang lebar dan datar ini tidak ditemukan sisa-sisa susunan bebatuan seperti terdapat pada punden berundak.

Sejauh ini, tim CISAH belum berhasil memperoleh angka yang tepat untuk luas areal situs tersebut karena masih sukar dilakukan pengukuran di lahan yang padat dengan tanaman karet dan kakao milik PT Satya Agung. Diperkirakan, luas lokasi situs itu tidak kurang dari 1 hektar. “Untuk mendapatkan informasi lebih luas dan rinci mengenai situs ini masih diperlukan penelitian arkeologis yang lebih memadai,” kata Taqiyuddin.

Itu sebabnya, Taqiyuddin berharap Balai Arkeologi, BP3 Aceh dan Dinas Kebudayaan memberikan tanggapan serius terhadap informasi penemuan tinggalan prasejarah ini. Apalagi jika diingat bahwa ancaman terhadap tinggalan sejarah lebih banyak diakibatkan oleh ketidaktahuan dan kurangya pemahaman masyarakat terhadap tinggalan sejarah yang seharusnya dilestarikan.
CISAH meyakini situs ini akan memberikan banyak informasi tentang masyarakat pendukung budaya pra-Islam di Samudra Pasai berikut proses Islamisasi yang berlangsung di kawasan tersebut.
Hal lain yang menjadi catatan tim CISAH adalah keberadaan lokasi situs itu di tenggara kota Kecamatan Simpang Kramat dengan jarak sekitar 9 km ini juga telah mengangkat kawasan kecamatan tersebut ke posisi kecamatan paling berpotensi kepurbakalaan. Kata Taqiyuddin, tim akan memberikan perhatian besar terhadap kawasan Simpang Kramat dalam kegiatan penelitiannya ke depan, karena boleh jadi bekas kerajaan Buluh Telang yang menjadi target tim justru akan dijumpai di kawasan itu.
Dugaan ini semakin kuat setelah tim menemukan lintasan kuno melewati bukit Pinto Karoe yang menghubungkan kawasan Simpang Kramat dengan bangunan punden berundak di tepi Krueng Jawa.
***
Di kawasan Desa Suka Damai, Mbang, Geureudong Pase, sekitar 40 km dari Lhokseumawe ke arah selatan, tim CISAH juga menemukan situs batu. Di situs ini terdapat batu besar berukuran sekitar 3 x 2,5 meter dengan tinggi hampir mencapai 2,5 meter. Lekukan dan alur-alur akibat erosi pada bagian puncak sampai ke tengah badan batu membuat batu tersebut tampak seperti lidah-lidah kobaran api besar, atau juga tampak seperti replika gugusan pegunungan dengan alur-alur sungainya.
Batu besar yang diperkirakan telah berumur jutaan tahun ini, kata Taqiyuddin, dikelilingi puluhan batu berukuran rata-rata sekitar 1 x 1.5 meter. Ketinggian batu-batu keliling yang secara ekstrim lebih rendah dari batu besar membentuk suatu formasi lingkaran yang berporos pada batu besar. Mayoritas batu-batu keliling itu tampak sebagai batu kursi. Hanya satu batu di antara batu-batu keliling itu yang secara fenomenal menampakkan perbedaan dengan lainnya.
Batu tersebut hampir persegi empat dan memiliki permukaan yang datar dan halus ukuran sekitar 2 x 2.3 m. Sebagian tepinya masih menyisakan tonjolan berlekuk dengan tinggi lebih kurang 7-10 cm. Batu ini terlihat seperti tempayan besar. Sebab itu, menurut Taqiyuddin, bisa disebut batu tempayan untuk membedakannya dengan batu meja (dolmen), sekalipun barangkali telah digunakan untuk fungsi yang sama. Batu ini berjarak sekitar 4 meter dari letak batu besar.
Posisi batu besar yang memanjang arah timur-barat dan letak batu tempayan di utaranya membuat lokasi yang berada di ketinggian sekitar 225 meter di atas permukaan laut ini terlihat berorientasi ke selatan, di mana terdapat deretan pegunungan.
“Diduga kuat situs ini pernah digunakan sebagai media pemujaan roh-roh leluhur oleh masyarakat pendukung kebudayaan megalitikum di zaman besi (Iron Age) dari sekitar 500 SM – 1000 M dan terus dimanfaatkan sebagai tempat suci pada zaman Hindu-Budha sebelum kedatangan Islam,” kata Taqiyuddin.
Dari banyak mitos dan cerita setempat, menurut Taqiyuddin, dapat diperkirakan tempat ini juga digunakan di zaman Islam sebagai tempat mengasingkan diri (‘uzlah) dalam tasauf Islam. Khususnya, batu tempayan, diyakini telah digunakan di zaman Islam sebagai tempat salat orang-orang yang melintas ke kawasan tersebut. Keyakinan itu, kata dia, juga didukung posisi batu tempayan yang memang cenderung membujur ke arah barat (kiblat).
Bentang lahan di sekitar lokasi situs yang berbukitan juga semakin diperindah oleh aliran sungai Krueng Pase yang mengalir deras di kaki bukit lokasi situs sebelah selatan. Menurut Muhammad Rizal, anggota tim CISAH di Geureudong Pase, situs ini telah lama dikenali oleh warga setempat yang menyebutnya dengan Batu Antik.
Jumari (55), asal Semarang, yang telah bermukim di Desa Suka Damai sejak 1986 kepada tim CISAH mengaku bahwa ketika pertama kali membuka lahan lokasi situs yang sekarang dimiliki PT Satya Agung itu, ia sudah menemukan batu tersebut. Susunan batu di sekelilingnya sebagaimana terlihat sekarang, tidak ada yang berubah. “Saya merasa betah berada lama-lama di lokasi itu,” kata Jumari mengagumi tinggalan budaya megalitikum yang terawat secara alami itu.
***
Temuan lain, di Desa Suka Damai, Mbang, berupa Batu Peta. Dari serangkaian temuan sebelumnya, tim CISAH akhirnya menyimpulkan lokasi ini sebagai situs Hunian Megalitik, yang terdapat di areal puncak bukit dan  cenderung datar pada ketinggian sekitar 270 meter, di atas permukaan laut. Letaknya secara astronomis pada koordinat 4°59 LU dan 92°02 BT.
Bekas-bekas kepurbakalaan yang terdapat di Hunian Megalitik tersebut sangat beragam. Di antaranya, menhir baik dalam posisi roboh maupun masih tegak, batu datar, batu gores, batu berurut, alat-alat megalit bahkan sampai benda-benda yang diperkirakan pernah digunakan untuk produksi emas. “Salah satu tinggalan prasejarah yang fenomenal di lokasi Hunian Megalitik itu adalah Batu Peta (Map Stone),” kata Taqiyuddin.
Tinggalan tradisi megalitik yang berupa garis-garis (alur) dan titik-titik (lubang-lubang serupa cawan) pada bidang datar batu itu tampak menunjuk ke lokasi-lokasi tertentu dengan jalur tempuhnya masing-masing. Batu Peta seperti ini, kata Taqiyuddin, juga pernah ditemukan di tempat lain di dunia, salah satu yang terkenal adalah di barat Yorkshare, Inggris.
Bangunan Batu Peta yang ditemukan di situs Hunian Megalitik Mbang ini berbentuk Batu Kursi sekitar 2 x 1,5 meter, yang di bagian belakang sandarannya terdapat peta atau garis-garis dan titik-titik penunjuk untuk kawasan yang diduga kuat adalah kawasan Aceh Utara, terutama kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Pase dan Krueng Jawa. “Batu Peta ini telah digunakan tim peneliti untuk menemukan beberapa lokasi punden berundak yang menjadi ciri kebudayaan megalitik,” kata Taqiyuddin.
Letak lokasi-lokasi punden berundak yang diketemukan lewat penunjuk-penunjuk pada batu peta yang diperkirakan telah berusia seribu tahun lebih ini, secara jelas menunjukkan adanya intensitas kegiatan manusia prasejarah yang padat di kawasan lembah dan kedua barisan perbukitan yang mengapit Krueng Jawa dari sebelah utara dan selatannya, dan membujur dari timur-barat membentuk formasi angka 11. Sementara bukit sebelah selatan Krueng Jawa kembali dirintangi Krueng Pase di sebelah selatannya sehingga letak geografis yang demikian amat strategis bagi lintasan transportasi waktu itu.

Di lokasi-lokasi punden berundak itu ditemukan pula menhir, lumpang dan alat-alat megalit. Pola arsitektural punden berundak di kawasan Mbang ini, kata Taqiyuddin, juga memiliki keunikan tersendiri dari beberapa bangunan punden berundak di Sumatera yang saya ketahui. Keunikannya ialah pada telaga (kolam penampung air hujan) yang terdapat di bagian mendekati puncak punden.
Dari telaga itu dibuat alur-alur di lantai bukit yang tersusun batu untuk mengalirkan air ke bagian-bagaian bawah punden. Alur-alur itu sebenarnya tidak persis sekali alur yang lazim, sebab bukan lubang galian dengan kedalaman tertentu, tapi hanya berupa kemiringan-kemiringan tertentu dari lantai punden yang dengan sendirinya menjadi bagian rendah untuk dialiri air dari telaga.
“Jadi tampaknya seperti air sungai yang turun dan mengalir tenang lewat sebuah tebing bukit yang landai. Mungkin saja, punden berundak di kawasan ini adalah replika dari tempat semisal itu,” kata Taqiyuddin, belum lama ini.
“Satu hal lain yang juga menarik, di bagian bawah punden berundak juga ternyata terdapat alur air bawah tanah semacam terowongan kecil. Maksud dan fungsinya masih belum diketahui secara pasti,” katanya.
Meski lokasi-lokasi situs prasejarah itu tampak telah pernah dihancurkan oleh masyarakat pendukungnya setelah mereka beralih keyakinan kepada Islam, kata Taqiyuddin, namun sisa-sisa kegiatan manusia prasejarah masih banyak terlihat. Situs-situs di kawasan Mbang ini akan menjelaskan banyak hal tentang masyarakat penghuni Aceh Utara masa pra-Islam berikut kebudayaannya serta proses Islamisasi kawasan tersebut.
“Dan yang tak kalah pentingnya juga, situs-situs megalitik ini akan membantu kita memahami pengaruh peradaban megalitik dalam kehidupan masyarakat setelahnya sampai dengan sekarang,” demikian Taqiyuddin.
Penasaran dengan situs Hunian Megalitik? Silahkan datang ke kawasan Mbang.[]

Mengungkap Peninggalan Purbakala Di Geureudong Pase
Oleh : Dimas
DULU, orang tidak pernah menyangka bahwa di Aceh Utara juga pernah dihuni oleh manusia purba. Manusia yang hidup sebelum Islam masuk ke bumi Sultan Malikussaleh ini. Namun, setelah tim peneliti dari CISAH (Central Information for Samudra Pasai Heritage) melakukan ekspedisi Meungat Sekandar II, kabut hitam tentang zaman pra sejarah di Aceh Utara mulai terungkap. Tim ini menelusuri desa demi desa di Kawasan Mbang, Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara. Tim menyimpulkan, potensi kepurbakalaan di daerah itu sangat tinggi.

Dengan demikian, kawasan tersebut layak masuk dalam zona Samudra Pasai, sebagai salah satu kawasan yang menyimpan sejarah. Kawasan yang menyimpan arti penting bagi ilmu pengetahuan. Tengku Taqiyuddin Muhammad, sebagai salah satu peneliti senior sejarah Islam di Aceh Utara, menyebutkan, ekspedisi dilakukan selama 11 hari, sejak akhir Mei-Juni 2010. “Tujuan ekspedisi untuk menemukan pusat pemukiman Islam di pedalaman Aceh Utara, yakni pemukiman sebelum berdirinya kota Samudra Pasai di pesisir, yang sejauh ini belum berhasil dideteksi,” kata pria berjenggot dan berkumis tebal ini.

Dari amatan tim di lapangan, kawasan Mbang ternyata tidak hanya menyisakan peninggalan kebudayaan-kebudayaan masa Islam, namun juga peninggalan masa prasejarah. Dari sisi ini, kawasan tersebut berbeda dengan kawasan situs-situs peninggalan sejarah di kecamatan Samudera yang dapat dikatakan murni peninggalan masa Islam. “Ini menunjukkan Kota Samudra, atau Sumutrah sebagaimana disebut Ibnu Bathuthah dalam Rihlahnya, dibangun pada masa Islam telah berkembang sampai pedalaman Aceh Utara sekarang, dan telah mengakhiri masa prasejarahnya paling lambat sekitar penghujung abad ke-12 M,” jelas Tengku Taqi-panggilan akrab Tengku Taqiyuddin Muhammad.

Di Suka Damai Mbang, pihaknya menemukan komplek hunian megalitik. Situs hunian megalitik ini terdapat di areal puncak bukit yang cenderung datar pada ketinggian ± 270 meter di atas permukaan laut dengan letaknya secara astronomis pada koordinat 4°59 LU dan 92°02 BT.

Bekas-bekas kepurbakalaan yang terdapat di hunian megalitik tersebut sangat beragam. Di antaranya, menhir baik dalam posisi roboh maupun masih tegak, batu datar, batu gores, batu berurut, alat-alat megalit bahkan sampai benda-benda yang diperkirakan pernah digunakan untuk produksi emas. Salah satu tinggalan prasejarah yang fenomenal di lokasi hunian megalitik tersebut adalah Batu Peta (Map Stone).

Peninggalan megalitik berupa garis-garis (alur) dan titik-titik (lubang-lubang serupa cawan) pada bidang datar batu itu tampak menunjuk ke lokasi-lokasi tertentu dengan jalur tempuhnya masing-masing.

Batu Peta seperti ini juga pernah ditemukan di tempat-tempat lain di dunia, salah satu yang terkenal adalah di barat Yorkshare, Inggris. “Orang zaman dulu, kalau mau buat peta di atas batu,” terang Tengku Taqi. Bangun Batu Peta yang ditemukan di situs hunian megalitik Mbang ini berbentuk Batu Kursi ± 2 x 1.5 meter yang di bagian belakang sandarannya terdapat peta atau garis-garis dan titik-titik penunjuk untuk kawasan yang diduga kuat adalah kawasan Aceh Utara, terutama kawasan DAS Krueng Pase dan Krueng Jawa.

Batu Peta ini telah digunakan tim peneliti untuk menemukan beberapa lokasi punden berundak yang menjadi ciri kebudayaan megalitik. Letak lokasi-lokasi punden berundak yang diketemukan lewat penunjuk-penunjuk pada batu peta yang diperkirakan telah berusia seribu tahun lebih ini, secara jelas menunjukkan adanya intensitas kegiatan manusia prasejarah yang padat di kawasan lembah dan kedua barisan perbukitan yang mengapit Krueng Jawa dari sebelah utara dan selatannya, dan membujur dari timur-barat membentuk formasi angka 11. Sementara bukit sebelah selatan, Krueng Jawa kembali dirintangi Krueng Pase di sebelah selatannya sehingga letak geografis amat strategis bagi lintasan transportasi waktu itu. Di lokasi yang sama ditemukan pula menhir, lumpang, dan alat-alat megalit.

Pola arsitektural punden berundak di kawasan Mbang ini juga memiliki keunikan tersendiri dari beberapa bangunan punden berundak di Sumatera. “Keunikannya ialah pada telaga (kolam penampung air hujan) yang terdapat di bagian mendekati puncak punden.

Dari telaga itu dibuat alur-alur di lantai bukit yang tersusun batu untuk mengalirkan air ke bagian-bagaian bawah punden,” sebut Tengku Taqi. Lebih jauh dijelaskan, alur-alur itu sebenarnya tidak persis sekali alur yang lazim, sebab bukan lubang galian dengan kedalaman tertentu tapi hanya berupa kemiringan-kemiringan tertentu dari lantai punden yang dengan sendirinya menjadi bagian rendah untuk dialiri air dari telaga.

Jadi, tampaknya seperti air sungai yang turun dan mengalir tenang lewat sebuah tebing bukit yang landai. Mungkin saja, punden berundak di kawasan ini adalah replika dari tempat semisal itu. Hal lain yang menarik, di bagian bawah punden berundak juga ternyata terdapat alur air bawah tanah semacam terowongan kecil.

Maksud dan fungsinya masih belum diketahui secara pasti. Meskipun lokasi-lokasi situs prasejarah itu tampak telah pernah dihancurkan oleh masyarakat pendukungnya setelah mereka beralih keyakinan kepada Islam, namun sisa-sisa kegiataan manusia prasejarah masih banyak terlihat.

Situs-situs di kawasan Mbang ini akan menjelaskan banyak hal tentang masyarakat penghuni Aceh Utara masa pra-Islam berikut kebudayaannya serta proses Islamisasi di kawasan tersebut. Dan yang tak kalah pentingnya juga situs-situs megalitik ini akan membantu kita memahami pengaruh peradaban megalitik dalam kehidupan masyarakat setelahnya sampai dengan sekarang, misalnya dalam hal pembuatan alat-alat batu untuk keperluan rumah tangga dan lain sebagainya.

Penuh harap
Mengingat potensi kepurbakalaan yang amat tinggi di kawasan Mbang Kecamatan Geureudong Pase ini, Tengku Taqi berharap agar pemerintah baik pusat dan daerah dapat memberikan dukungannya kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Aceh (BP3 Aceh) dan lembaga terkait lainnya untuk dapat melakukan berbagai kegiatan mulai penelitian arkeologis yang lebih seksama di kawasan. “Untuk sekarang ini, dan dengan kemampuan finansial mandiri dan sangat terbatas,

CISAH cuma dapat melakukan survey awal serta menginformasikan dan mempublikasikan hasil-hasil temuannya agar dapat dimanfaatkan oleh para ahli ilmu pengetahuan terkait kepurbakalaan dan sejarah, dan juga supaya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai langkah pengembangan baru di sektor kebudayaan dan parawisata,” harap Tengku Taqi.

Dia juga menyebutkan, jika penelitian ini tidak didukung oleh pemerintah daerah, maka sangat disayangkan. Karena, temuan itu akan rusak dimakan waktu

Lima Kecamatan tak Dapat Bantuan Pusat


LHOKSUKON - Sebanyak lima kecamatan di Aceh Utara tidak memperoleh dana bantuan pendidikan dan kesehatan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) Aceh Utara tahun 2012. Bantuan itu merupakan program nasional dari Kementerian Sosial RI. Kelima kecamatan itu adalah Pirak Timu, Geureudong Pase, Nisam Antara, Simpang Keuramat, dan Kecamatan Paya Bakong.

Taufiqurrahman, warga Desa Peudari, Kecamatan Geureudong Pase, kepada Serambi, Jumat (20/7) berharap Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Aceh Utara memperjuangan kecamatan tersebut menerima PKH. “PKH itu kan untuk rumah tangga sangat miskin (RTSM). Lalu, kurang miskin apa masyarakat pedalaman seperti Geureudong Pase. Kami harap, kami jangan dianaktirikan,” harap Taufiq.

Kadis Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Aceh Utara, Isa Anshari, menyebutkan pihaknya mengusulkan seluruh kecamatan (27 kecamatan) sebagai menerima bantuan tersebut ke Kemensos RI. “Tapi, ada lima kecamatan yang belum masuk program PKH tahun ini. Karena itu, tahun depan kita usu
lkan lagi. Semoga bisa dikabulkan oleh Kemensos,” ujarnya
Temukan Bukti Prasejarah Di Kecamatan Geureudong Pase

Aceh Utara-Tekad meneliti sejarah islam di Aceh dari jejak Kerajaan Samudera Pasai tak terhenti meski tanpa adanya sokongan dana dari pihak lain. Tgk Taqiyuddin membentuk satu tim peneliti yang berisikan anak-anak muda pecinta budaya dan sejarah untuk menelusuri sejumlah situs sejarah. Berbekal dana swadaya dari anggota Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH). Tim terus bekerja menelusuri lokasi yang didapat dari petunjuk sejumlah hikayat raja-raja Pasai.

Dari beberapa penelusuran tim, bukti sejarah islam dan lainnya menurut Taqiyuddin Muhammad, Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam & Anggota Tim Peneliti CISAH, tersebar hampir diseluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Utara. Termasuk bukti situs peninggalan prasejarah yang ditemukan pihaknya di kawasan Mbang, Kecamatan Geuredong Pase, Aceh Utara beberapa waktu lalu yang berjarak sekitar 30 km dari Kota Lhokseumawe.

Menurut Taqiyuddin, penemuan situs pra sejarah tersebut berawal dari rencana penelitian untuk menemukan bekas kota atau pemukiman kuno di pedalaman bekas kerajaan Samudra Pasai. Hal ini menindaklanjuti dari Hikayat Raja-raja Pasai (HRP) atau Kronik Pasai (KP). Dari sana ada tergambar beberapa petunjuk, salah satunya yang disebut HRP adalah kota kerajaan Buluh Telang dimana penguasanya adalah Meugat Sekandar.
“Maka dari itu, kegiatan penelitian tersebut juga mengambil nama Ekspedisi Meugat Sekandar. Sedangkan ekspedisi kedua menyusul dilakukan pada kawasan Leubok Tuwe Kecamatan Meurah Mulia untuk tujuan yang sama,”ucap Taqiyuddin.

Tim Penelitian yang didanai swadaya anggota CISAH, memperoleh informasi dari kedua informen sekaligus anggotanya di Mbang. Yakni Muhammad Rizal (23) dan Nasruddin (23) tentang adanya komplek pemakaman kuno di areal perkebunan PT. Satya Agung bersebelahan dengan gampong Uram Jalan, Mbang.Mendapat laporan ini, tim segera menuju lokasi pada hari itu juga. Di lokasi, mereka menemukan benda-benda tinggalan sejarah yang tak lazim dijumpai pada komplek makam kuno Samudra Pasai. Dari observasi diketahui bahwa tinggalan sejarah tersebut berupa sebuah bangunan yang lazim disebut dengan “punden berundak”.

Yakni bangunan terbuat dari susunan batu di sebuah bukit atau gunung yang memiliki tingkat-tingkat atau teras-teras (berundak). Punden berundak merupakan tempat pemujaan tradisi zaman megalitikum yang berada di tempat-tempat tinggi. Yakni sesuai kepercayaan masyarakat pendukung kebudayaannya, di mana roh-roh suci berada di tempat-tempat yang tinggi.

Dari hasil pemantauan sementara, bebatuan susunan punden berundak Uram Jalan ini, rata-rata, dari jenis batu lempung yang memang biasa digunakan untuk bangunan sejenisnya di nusantara saat itu. Bangunan prasejarah ini berorientasi dari Utara ke Selatan menghadap ke arah pegunungan. Sebelah selatannya berbatasan dengan aliran sungai Krueng Jawa dan Timur-Baratnya dengan bukit lain.“Sepengetahuan kami, bangunan punden berundak ini, merupakan tinggalan prasejarah yang pertama diketemukan dalam jenisnya di provinsi Aceh,”katanya.

Di situs prasejarah tersebut berada pada koordinat 05°00 LU dan 97°05 BT dengan ketinggian sekitar 122 m di atas permukaan laut ini, juga terdapat banyak menhir (semacam batu tegak yang ada diatas punden berundak berfungsi untuk pemujaan terhadap arwah nenek moyang). Terutama di bagian puncak bukit, diketemukan rata-rata berukuran panjang sekitar 80 cm dengan diameter sekitar 30-40 cm. Tidk tertutup kemungkinan di lokasi juga ada menhir yang ukurannya lebih besar.

Dilokasi situs tersebut, juga ditemukan artefak berupa beberapa peralatan megaliticum seperti, kapak, penetak dan lainnya yang terbuat dari batu andesit. Peralatan yang biasanya digunakan untuk proses ritual dalam kebudayaan megalitikum ditemukan berserakan dipermukaan tanah.Pada bukit sebelah barat laut punden juga ditemukan pecahan-pecahan tembikar yang diduga berasal dari penghuni pemukiman zaman Islam pada abad ke-13 M. Pada bukit yang lebar dan datar ini tidak ditemukan sisa-sisa susunan bebatuan seperti terdapat pada punden berundak.

Sampai sejauh ini, Tim belum berhasil memperoleh angka yang tepat untuk luas areal situs tersebut karena masih sukar dilakukan pengukuran di lahan yang padat dengan tanaman-tanaman karet dan coklat milik PT. Satya Agung; diperkirakan luas lokasi situs tidak kurang dari 1 hektar.Untuk mendapatkan informasi lebih luas dan rinci mengenai situs ini masih sangat diperlukan penelitian arkeologis yang lebih memadai. Dari itu, kami mengharapkan agar Balai Arkeologi, BP3 Aceh dan dinas kebudayaan baik provinsi maupun kabupaten dapat memberikan tanggapan serius terhadap informasi penemuan tinggalan prasejarah ini, apalagi jika diingat bahwa ancaman terhadap tinggalan sejarah lebih banyak diakibatkan oleh ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap tinggalan sejarah yang seharusnya dilestarikan.

"Sementara dari pihak kami, sudah siap bekerja sama dengan pihak-pihak berwenang dalam hal ini agar kemudian berbagai perihal menyangkut situs ini dapat terungkap". Sebab sebagaimana diyakini, situs yang pertama sekali diketemukan dalam jenisnya ini akan memberikan banyak informasi tentang masyarakat pendukung budaya pra-Islam di Samudra Pasai berikut proses Islamisasi yang berlangsung di kawasan ini.

Suatu hal lain yang menjadi catatan Tim adalah keberadaan lokasi situs di tenggara kota kecamatan Simpang Kramat dengan jarak ± 9 km ini juga telah mengangkat kawasan kecamatan tersebut ke posisi kecamatan paling berpotensi kepurbakalaan.Tim akan memberikan perhatian besar terhadap kawasan Simpang Kramat dalam kegiatan penelitiannya ke depan karena sangat boleh jadi bekas kerajaan Buluh Telang yang menjadi target Tim justeru akan dijumpai di kawasan tersebut. Dugaan ini semakin kuat setelah Tim menemukan lintasan kuno melewati bukit Pinto Karoe yang menghubungkan kawasan Simpang Kramat dengan bangunan punden berundak di tepi Krueng Jawa.

Kepada segenap pihak di Simpang Kramat baik masyarakat maupun pemerintah setempat, Tim berharap agar mereka dapat memberikan informasi-informasi yang dianggap penting menyangkut berbagai bentuk tinggalan kepurbakalaan di kawasan tersebut.

Melihat tekad tim peneliti yang mau mengorbankan waktu dan pikiran mereka serta dana pribadi tentunya harus kita acungkan jempol. Tetapi bukan hanya sekedar apreasiasi itu saja, tapi layaknya dukungan semua pihak memang harus diberikan. Terutama pemerintah daerah serta para ilmuwan dari universitas yang ada di Provinsi Aceh. Serta para peneliti luar yang punya keilmuan tentang sejarah. Sehingga kejelasan perjalanan sejarah islam di Aceh tidak lagi terbenam begitu saja seperti saat ini.

Kisah

Setelah 31 Tahun Menanti, Kesempatan Membangun Melalui Geureudong Pase
 Laporan : Taufik
MASIH tergiang dalam ingatan Mahmuddin,51, ketika pertama kali menginjak kakinya di kawasan hutan Mbang, pedalaman Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Tahun 1976 rumahnya di Syamtalira Aron dinyatakan termasuk dalam lokasi eksplorasi gas alam. Sehingga Pemda dan perusahan eksplorasi gas, memindahkan dia bersama 25 kepala keluarga lain ke resetlement Mbang sebagai tempat barunya. Di kawasan hutan itulah, Mahmuddin mulai merajut kehidupan dengan berbagai fasilitas dari perusahaan asing tersebut. Di antaranya, rumah, ladang seluas 2.800 meter dan kebun satu haktare.
31 tahun masa itu telah berlalu. Sebagai warga pedalaman, telah banyak pengalaman pahit dirasakan. Mulai dari serangan gajah liar sampai dengan ancaman pada masa konflik, telah menghiasa kehidupan warga Mbang yang berada sekitar 20 kilometer dari Jalan Negera Medan-Banda Aceh. Karena letaknya sangat terpencil, sehingga bisa dibanyangkan bagaimana kondisi pendidikan, kesehatan dan pelayanan pemerintah di daerah tersebut.
Mahmuddin menceritakan, setelah pindah ke Mbang, Pemkab Aceh Utara pernah berjanji akan selalu memperhatikan mereka. Bahkan tidak main-main, Tahun 1978 Gunernur Aceh, Madjid Ibram khusus mengunjungan warga setempat, sebagai bukti keseriusan pemerintah terhadap mereka yang dipindahkan dari Aron. Namun, setelah itu janji tersebut mengambang, hingga muncuk konflik yang memporak-pondakan kehidupan warga yang hidup dari hasil perkebunan.
Sebelum resetlement Mbang dibuka, warga ‘pribumi’ telah mendiami tempat itu sekitar 6 kk. Muhammad Yakob,65, merupakan salah satunya. Secara turun temurun, kakek empat cucu tersebut telah menjadi warga Mbang. Dulu pada masa penjajahan Belanda, kisah dia, banyak Ulee Balang (kaum bangsawan) datang ke Mbang untuk membuka lahan perkebunan. “Mbang ini dulu juga dikenal Pantee Raja (tempat raja berlabu),” cerita Yakob. Mereka para kaum bangsawan mencapai kawasan tersebut melalui sungai Pase.
Ketika Aceh mendapat status Daerah Operasi Milter (DOM), Mbang menjadi salah satu pusat konflik. “Ketika itu kami pernah mengunggi ke Politeknik di Lhokseumawe, karena sering terjadi perang,” kisahnya. Akan tetapi setelah kondisi Aceh kondusif, pasca MoU Hensinki, kehidupan Mbang mulai terlihat cerah. Usaha perkebunan seperti, sawit, karet, coklat sudah dapat dikembangkan. Namun, masalahnya sekarang Mbang bersama 11 desa lainnya masih terkendala dengan posisinya yang berada di pedalaman.
Untuk mengurus berbagai kepentingan, warga harus menempuh jarak sampai 22 Km ke ibu kota kecamatan di Syamtalira Bayu. Begitun juga pusat pelayan masyarkat lainnya seperti, Puskesmas juga berada jauh dari kawasan tersebut.
Memasuki masa pemerintahan baru, berkah perdamaian pun muncul. Mbang bersama 11 desa lain telah mendapat ibukota baru, dengan nama Kecamatan Geuredong Pase. Warga tidak perlu lagi menbuang waktu dan dana yang bayak untuk mengurus kepentingan ke ibu kota kecamatan. Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid di saksiakan ribuan warga Aceh Utara meresmikan Kecamatan Geurudong Pase, Acara tersebut ikut dihadiri, Ketua DPRD Aceh Utara, Dandim 0103/AUT, Kapolres Aceh Utara, Kapolres Kota Lhokseumawe dan sejumlah unsur Muspida lainnya.
12 Desa yang termasuk dalam Kecamatan Geuredong Pase, Suka Damai, Pulo Meuria, Mbang, Seupeung, Rayok Jawa, Bedari, Ruam Jalan, Darussalam, Alue Awe, Lhok, Darul Aman dan Lubok Kliet. Bukan hanya warga asli Mbang dan warga resetlemen Aron, ternyata di beberapa desa juga terdapat warga tranmigrasi terutama di Suka Damai. Warga resetlemen Aron bersama 366 kk warga lainnya sekarang mulai hidup baru, setelah 31 tahun menanti janji yang tertunda.(***)

Sejarah

Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat

Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat Lhokseumawe Menentang Penjajah Jepang Tak Terurus
Laporan : Taufik
LHOKSEUMAWE : Sejumlah bukti sejarah perjuangan masyarakat Lhokseumawe tempo dulu dalam menentang penjajah jepang dibiarkan terbengkalai. Selain tiga kurorok (tempat perbunyian) di Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, sejumlah benteng pertahan sepanjang pantai Ujong Blang, Kec. Banda Sakti juga tak terurus.
Pantauan Wartawan, Kurorok sebagai tempat persembunyian dalam tanah di bawah bukit karang sangat mengagumkan. Menurut keterangan pakar sejarah dari Seksi Pariwisata setempat, kendati liang besar di bawah bukit telah dihajar dua kali oleh gempa bumi sangat dasyat di Aceh, namun sedikit pun tidak mengalami keretakan. “Mungkin sengaja dipilih di bukit tanah bercampur karang, sehingga sangat kokoh,” jelas petugas Pariwisata saat berkunjung ke lokasi yang berada di sampaing pabrik pengolahan gas PT.Arun NGL.
Lubang besar setinggi tubuh orang dewasa, menurut dia, dibuat tentara Jepang karena selalu mendapat serangan hebat dari masyarakat Lhokseumawe kala itu. “Sesuai dengan beberapa cerita saksi yang hidup pada saat itu, lubang ini dikerjakan warga setempat karena dipaksa penjajah,” tambah Kasi Pariwisata Kota Lhokseumawe, A.Hadi. Lubang berbentuk oval, menyerupai kaki-lima toko yang di bagian sisinya dipenuhi dengan lubang berbentuk kamar.
Di dalam kamar-kamar kecil ini diperkirakan memiliki berbagai fungsi. Di dalamnya masih tersisa bekas tempat tidur, tempat memasak, bahkan bekas tempat tahanan. Namun akibat sering dimasuki air lewat pintu masuk bagian-bagian berbentuk kamar becek dan berlumpur. “Kalau setiap pintu masuk kita buat penghalang agar air tidak masuk, kondisinya akan bagus,” jelas Kadis Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Lhokseumawe, Zulkifli Yusuf. Di sekitar kurorok itu juga terdapat dua tempat pensembunyian lainnya. Karena berda persisi di sekitar jalan masuk, tempat-tempat itu diduga digunakan untuk para pasukan pengawal.
Untuk melestarikan peninggalan bersejarah peninggalan Jaman Jepang, Pemko Lhokseumawe baru mengalokasikan dana Rp.50 juta melalui APBK TA-2007. Sehingga hanya atap pintu gerbang dari beton dapat direalisasikan. Sementara jalan lintas melalui Makam Pahlawan sepanjang 300 meter ke lokasi baru dibuka pihak NGO. Mereka merencanakan mebangunan rumah sakit tidak jauh dari lokasi itu.
Di atas bukit yang sangat luas ini juga dapat dibangun lokasi pariwisata. Para pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh pantai yang melingkari Kota Lhokseumawe dari atas. Puluhan kapal besar dan ratusan boat nelayan terlihat jelas terapung di laut. Begitu juga dengan tangki raksasa milik PT.Arun LNG tersebar sepanjang pantai. Bila pemerintah berani mengelola lokasi itu, hampir dapat dipastikan akan menjadi asset daerah yang mampu meraup keuntungan besar. Selain itu, warga sekitar yang dapat memanfaatkan keramaian pengunjug dengan menjadi pejajan makanan, demikian Zulkifli

Sosial

PSK Di Negeri Bersyari’at


Laporan: Taufik



Kata orang bijak “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali jatuh juga”. Begitu realitas yang terjadi pada sejumlah perempuan Pekerja Sek Komersial (PSK) di Kota Lhokseumawe.


Sejak hukum Islam mulai diterapkan di Aceh, para pekerja sek yang beseliweran di Bumi Tanah Rencong mulai kehilangan omset, dan bahkan mereka harus hengkang dari Bumi Serambi Mekah, karena tidak bisa ‘menjajakan daganggannya’ secara bebas. Namun, setelah beberapa tahun hilang, kini PSK ‘siluman’ kembali bermunculan dibeberapa kota di Aceh, salah satunya di Kota Lhokseumawe.


Hal ini terbukti, dari beberapa kasus khalwat yang terjadi sepanjang tahun 2008. karena tidak bisa bebas, para pelaku sek, melakukan perbuatan terlarang agama Islam itu dengan berbagai cara, yakni membawa pasangan ke rumah, indehoi di mobil dan di berbagai tempat lainnya, dengan cara sembunyi-sembunyi.


Hasil investigasi yang dilakukan oleh beberapa polisi Wilayatul Hisbah (WH) Kota Petro Dolar itu membuktikan, wanita yang menjual tubuhnya di Lhokseumawe kian banyak dan terus berkembang biak. Banyak diantara para PSK itu masih bau kencur dan umumnya mereka masih belajar di bangku sekolah dan mahasiswa.


Ridwan Jalil, Kepala Kantor Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe kepada Wartawan beberapa waktu lalu mengatakan, ada beberapa lokasi yang rawan terjadinya perbuatan khalwat di Lhokseumawe yakni; Kecamatan Muara Dua, Seputaran Cunda, Rancong, Panggoi dan dibeberapa kawasan lainnya di Kecamatan Muara satu.


“Ada juga pelaku khalwat bergaya bagaikan penyewa rumah. Di sana mereka bebas berhubungan intim bagaikan sepasang suami isteri yang sah. Begitupun, berkat adanya kerjasama masyarakat dengan pihak kita, para pelaku khawat tertangkap juga,” kata Ridwan Jalil.


Dan sekarang ini, pihaknya sedang mengincar salah satu rumah yang tidak disebutkan alamatnya, diduga selama ini digunakan sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat para lelaki hidung belang.


“Saya sudah menerima informasi akurat tentang keberadaan mereka, karena WH juga memiliki intel yang disebarkan di titik yang dicurigai adanya penyakit sosial ini. Para PSK semuanya itu akan kita tangkap dan rumah hunian mereka juga akan kami obrak-obrik, demi tercapainya hukum Syari’at secara kaffah.


Karena teknologi informasi (TI) semakin canggih, para pekerja sesualpun tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk modal dagangannya, cukup dengan satu Short Message Service (SMS), yang dikirimkan lewat handphone. “Nyan mandum tergantung bak kemampuan olah (itu semua sangat bergantung pada kemapuan olah).


Beberapa PSK yang berhasil diwawancara Wartawan, mengaku, perbuatan itu dilakukan karena tuntutan ekonomi. “Ini terpaksa kami lakukan, akibat desakan ekonomi. Padahal kami tau, ini tidak bisa kami lakukan di sini, di Negeri yang bersyari’at Islam ini.”

Mampukah para Polisi Wilayatul Hisbah (WH) Kota Lhokseumawe dan Aceh mebendung berkembangnya para pekerja sek komersial (PSK) di Bumi yang bersyari’at ini.