Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat
Bukti Sejarah Perjuangan Masyarakat Lhokseumawe Menentang Penjajah Jepang Tak Terurus
Laporan : Taufik
LHOKSEUMAWE
: Sejumlah bukti sejarah perjuangan masyarakat Lhokseumawe tempo dulu
dalam menentang penjajah jepang dibiarkan terbengkalai. Selain tiga kurorok (tempat
perbunyian) di Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, sejumlah benteng
pertahan sepanjang pantai Ujong Blang, Kec. Banda Sakti juga tak
terurus.
Pantauan Wartawan,
Kurorok sebagai tempat persembunyian dalam tanah di bawah bukit karang
sangat mengagumkan. Menurut keterangan pakar sejarah dari Seksi
Pariwisata setempat, kendati liang besar di bawah bukit telah dihajar
dua kali oleh gempa bumi sangat dasyat di Aceh, namun sedikit pun tidak
mengalami keretakan. “Mungkin sengaja dipilih di bukit tanah bercampur
karang, sehingga sangat kokoh,” jelas petugas Pariwisata saat berkunjung
ke lokasi yang berada di sampaing pabrik pengolahan gas PT.Arun NGL.
Lubang
besar setinggi tubuh orang dewasa, menurut dia, dibuat tentara Jepang
karena selalu mendapat serangan hebat dari masyarakat Lhokseumawe kala
itu. “Sesuai dengan beberapa cerita saksi yang hidup pada saat itu,
lubang ini dikerjakan warga setempat karena dipaksa penjajah,” tambah
Kasi Pariwisata Kota Lhokseumawe, A.Hadi. Lubang berbentuk oval,
menyerupai kaki-lima toko yang di bagian sisinya dipenuhi dengan lubang
berbentuk kamar.
Di
dalam kamar-kamar kecil ini diperkirakan memiliki berbagai fungsi. Di
dalamnya masih tersisa bekas tempat tidur, tempat memasak, bahkan bekas
tempat tahanan. Namun akibat sering dimasuki air lewat pintu masuk
bagian-bagian berbentuk kamar becek dan berlumpur. “Kalau setiap pintu
masuk kita buat penghalang agar air tidak masuk, kondisinya akan bagus,”
jelas Kadis Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Lhokseumawe,
Zulkifli Yusuf. Di sekitar kurorok itu juga terdapat dua tempat
pensembunyian lainnya. Karena berda persisi di sekitar jalan masuk,
tempat-tempat itu diduga digunakan untuk para pasukan pengawal.
Untuk
melestarikan peninggalan bersejarah peninggalan Jaman Jepang, Pemko
Lhokseumawe baru mengalokasikan dana Rp.50 juta melalui APBK TA-2007.
Sehingga hanya atap pintu gerbang dari beton dapat direalisasikan.
Sementara jalan lintas melalui Makam Pahlawan sepanjang 300 meter ke
lokasi baru dibuka pihak NGO. Mereka merencanakan mebangunan rumah sakit
tidak jauh dari lokasi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar