Derita Lama Bersemi Kembali
Tanah Kelahiran Bupati Belum Merdeka!
laporan : Taufik
Kehidupan
rakyat kecil tak pernah terlepas dari belenggu kemiskinan. Tersisihkan,
tertindas dengan berbagai realita problema yang harus dilaluinya,
satu-persatu. Rintangan demi rintangan kelak menghatui sederetan langkah
mereka setiap harinya.
Tak terlintas sedikitpun tanda-tanda kehidupan disana. Dunia
mereka suram, gelap gulita ditelan bumi. Untuk bernafas tak ada ruang!
Untuk bergerak tak ada jalan! Rakyat menjerit seraya berkata : “Kami
tinggal dalam kotak yang tertutup rapat, tak ada angin tak ada pun
cahaya yang menerangi bumi, “ ucap Juanda, Imum Mukim Blang Dalam
Kecamatan Nisam, kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Kecamatan
Nisam terletak di wilayah bagian tengah Negri Petro Dollar memiliki
luas keseluruhan 241,47 km², berjarak sekitar 20 Kilometer dari Kota
Lhokseumawe. Terdiri dari 29 gampoeng, dengan jumlah penduduk
keseluruhannya 17.686 Jiwa. Umummnya mereka masih berada dibawah garis
kemiskinan, bermata pencaharian menjadi petani sawah dan kebun. Tak
jarang juga ada yang berprofesi sebagai buruh kasar kuli bangunan,
tukang ojek dan lainnya.
Meski
memiliki hamparan alam yang luas dan tanah subur, tetapi daerah
perbukitan bekas basis kekuatan militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini
masih terisolir. Dimana-mana jalan rusak parah tak keruan,
hancur-hancuran, berlobang, berlumpur, becek menyerupai kadang kerbau.
Sepanjang
30 Kilometer ruas jalan yang membentang di tanah kelahiran Bupati Aceh
Utara, Ilyas A Hamid, mengkhawatirkan untuk dilalui oleh para
pengendara. Masyarakat meronta-ronta, karena hingga saat ini belum
merasakan nikmatnya kemerdekaan. Masyarakat pedalaman ini” menjerit”,
lalu berkata, “Kami belum merasakan kemenangan”.
Putusnya
jalur transportasi, mengakibatkan petani resah memasarkan hasil alam ke
Ibukota Kecamatan. Nasib mereka terlunta-lunta, sulitnya mempertahankan
hidup mengais sesuap nasi. “Rakyat terus merana dilanda serba
kesusahan, terjepit ekonomi! Aktivitas mereka menjadi terhenti! lumpuh
total tak berdetak, “ terang Camat Nisam Dahlan, SE.
Rakyat
pelosok pedalaman itu terdiri tiga golongan, warga dhuafa, korban
konflik, dan eks-mantan kombatan GAM. Deretan kebun pepohonan tanaman
pinang, karet, coklat dan persawahan, yang berjejeran rapi, sekedar
menjadi pajangan belaka. Pemandangan ini hanya sebagai pelipur lara
semata.
Lebih
tragis lagi! Belasan ribuan lahan produktif masih dibiarkan
terbengkalai tak terurus sama sekali. Lahan tersebut kini menjadi hutan
kecil yang sudah ditumbuhi semak-semak belukar bagaikan : “padang
ila-lang”. Pemkab Aceh Utara yang memiliki Anggaran Pendapatan Belanja
Kabupaten (APBK) mencapai RP1,5 Trilyun, terbesar dibandingkan dengan
Kabupaten/Kota lainnya di Aceh, menutup mata melihatnasib rakyat jelata.
Belum
lagi permasalahan seluas 2.000 Hektare areal lahan persawahan yang
dilanda kemarau panjang. Tanaman padi sawah kering-kerontang, dan
penyakit gagal panen adalah drama paling menyakitkan. Hal ini akibat
tidak adanya saluran yang menghubungkan air yang bersumber dari Krueng
Tuan. Sehingga musibah kekeringan terus menjadi momok menakutkan bagi
para petani, sejak puluhan-puluhan tahun lalu.
“Kami
sangat sengsara! Tak ada sedikipun pernah merasakan kenyamanan, selalu
dalam keadaan was-was, karena perut keroncongan lapar. Kebutuhan irigasi
muthlak, sebab padi mati layu kekurangan air, “ ucap Nek Lah, 64, seorang petani Tua Desa Blang Karieng.
Lelaki
berusia renta ini menuturkan, sebenarnya Anak-anak Nisam yang
menganggur bisa menikmati pekerjaan, bila Pemda berkomitmen melakukan
pemberdayaan lahan yang terbengkalai.
Salah
satunya, yakni ratusan Hektare areal lahan didaerah bekas konflik
bersenjata dikawasan Paya Cot Trieng, yang membelah Kecamatan Nisam-Kuta
Makmur. Tempat heroik pengepungan para tokoh elit Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) selama 42 hari pada tahun 2002 lalu itu, sangat layak dijadikan
monumen bersejarah, dengan ditanami areal perkebunan dan pertanian
sebagai daya tarik alam sekitarnya.
Melihat
penderitaan ini, akhirnya Orang Nomor Satu di Aceh Utara, Ilyas A
Hamid, pulang ke kampung halamannya. Selama dalam perjalanan matanya
risih melihat kondisi tempat dimana dirinya dibesarkan masih
tercampakkan terbelenggu dalam mata rantai pagar besi.
Kepalanya
geleng-geleng menyaksikan jalur transportasi, sambil mengikuti irama
naik-turun jingkrak-jingkrak didalam mobil kebesarannya saat menelusuri
perjalanan panjang nan melelahkan. Nyaris tak tampak sedikitpun badan
jalan yang rata, karena dimana-mana hanya tampak jalan berlubang yang
menganga besar. Dia, pun sempoyongan begitu mengikuti perjalanan pulang
tempat Ilyas kecil bermain bersama teman sebayanya.
Berbagai
pengaduan yang dilontarkan warga! Disambutnya dalam pangkuan tugas yang
harus di embannya dengan arif dan bijaksana. Kekecewaa amarahnya
terhadap masyarakat Nisam yang terlibat konstraktor pembangunan jalan,
begitu tinggi memuncak. Dia berkata, konstraktor selalu hanya bisa
beralasan gagal tender, seperti laporan yang diterimanya dari Camat.
Kebrobrokan
konstraktor dengan keteledorannya akan ditindak, Bupati juga berjanji
akan mengeluarkan Surat Keputusan dari titahnya langsung, yang
intinya, “kalau ada kesalahan yang diperbuat konstraktor segala
sesuatunya akan diadili sesuai kehendak dan keinginan rakyat, “
tegasnya.
Menyangkut
kekeringan akan ditempuh upaya memanfaatkan air Sungai-sungai besar
yang nantinya berfungsi mengairi ke sawah yang bersumber dari Krueng
Tuan. Sedangkan persoalan rawa Cot Trieng masih harus dipertimbangkan
dari hasil survey kelayakan.
“Segala
sesuatunya akan Saya tampung dan ditempuh solusinya pada tahun anggaran
2008. Rakyat Ku bersabarlah..., Lon komit ngoen droen neuh mandum, lon
troh keunoe lon saweu awak droen man mandum (Saya komit dengan kalian
semua, saya sampai kemari untuk melihat kampung) mudah-mudahan tahun
2008-2009 tercapai sesuai kehendak rakyat Ku, “ tukas Bupati.
Peliknya derita yang dialami Ilyas Kecil hingga saat ini, masih
dirasakan yang lainnya. Sepenggal kisah dimasa lampau teriwayat kembali!
Terceritakan dan tergambarkan sampai sekarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar