Minggu, 30 Desember 2012

Temukan Bukti Prasejarah Di Kecamatan Geureudong Pase

Aceh Utara-Tekad meneliti sejarah islam di Aceh dari jejak Kerajaan Samudera Pasai tak terhenti meski tanpa adanya sokongan dana dari pihak lain. Tgk Taqiyuddin membentuk satu tim peneliti yang berisikan anak-anak muda pecinta budaya dan sejarah untuk menelusuri sejumlah situs sejarah. Berbekal dana swadaya dari anggota Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH). Tim terus bekerja menelusuri lokasi yang didapat dari petunjuk sejumlah hikayat raja-raja Pasai.

Dari beberapa penelusuran tim, bukti sejarah islam dan lainnya menurut Taqiyuddin Muhammad, Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam & Anggota Tim Peneliti CISAH, tersebar hampir diseluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Utara. Termasuk bukti situs peninggalan prasejarah yang ditemukan pihaknya di kawasan Mbang, Kecamatan Geuredong Pase, Aceh Utara beberapa waktu lalu yang berjarak sekitar 30 km dari Kota Lhokseumawe.

Menurut Taqiyuddin, penemuan situs pra sejarah tersebut berawal dari rencana penelitian untuk menemukan bekas kota atau pemukiman kuno di pedalaman bekas kerajaan Samudra Pasai. Hal ini menindaklanjuti dari Hikayat Raja-raja Pasai (HRP) atau Kronik Pasai (KP). Dari sana ada tergambar beberapa petunjuk, salah satunya yang disebut HRP adalah kota kerajaan Buluh Telang dimana penguasanya adalah Meugat Sekandar.
“Maka dari itu, kegiatan penelitian tersebut juga mengambil nama Ekspedisi Meugat Sekandar. Sedangkan ekspedisi kedua menyusul dilakukan pada kawasan Leubok Tuwe Kecamatan Meurah Mulia untuk tujuan yang sama,”ucap Taqiyuddin.

Tim Penelitian yang didanai swadaya anggota CISAH, memperoleh informasi dari kedua informen sekaligus anggotanya di Mbang. Yakni Muhammad Rizal (23) dan Nasruddin (23) tentang adanya komplek pemakaman kuno di areal perkebunan PT. Satya Agung bersebelahan dengan gampong Uram Jalan, Mbang.Mendapat laporan ini, tim segera menuju lokasi pada hari itu juga. Di lokasi, mereka menemukan benda-benda tinggalan sejarah yang tak lazim dijumpai pada komplek makam kuno Samudra Pasai. Dari observasi diketahui bahwa tinggalan sejarah tersebut berupa sebuah bangunan yang lazim disebut dengan “punden berundak”.

Yakni bangunan terbuat dari susunan batu di sebuah bukit atau gunung yang memiliki tingkat-tingkat atau teras-teras (berundak). Punden berundak merupakan tempat pemujaan tradisi zaman megalitikum yang berada di tempat-tempat tinggi. Yakni sesuai kepercayaan masyarakat pendukung kebudayaannya, di mana roh-roh suci berada di tempat-tempat yang tinggi.

Dari hasil pemantauan sementara, bebatuan susunan punden berundak Uram Jalan ini, rata-rata, dari jenis batu lempung yang memang biasa digunakan untuk bangunan sejenisnya di nusantara saat itu. Bangunan prasejarah ini berorientasi dari Utara ke Selatan menghadap ke arah pegunungan. Sebelah selatannya berbatasan dengan aliran sungai Krueng Jawa dan Timur-Baratnya dengan bukit lain.“Sepengetahuan kami, bangunan punden berundak ini, merupakan tinggalan prasejarah yang pertama diketemukan dalam jenisnya di provinsi Aceh,”katanya.

Di situs prasejarah tersebut berada pada koordinat 05°00 LU dan 97°05 BT dengan ketinggian sekitar 122 m di atas permukaan laut ini, juga terdapat banyak menhir (semacam batu tegak yang ada diatas punden berundak berfungsi untuk pemujaan terhadap arwah nenek moyang). Terutama di bagian puncak bukit, diketemukan rata-rata berukuran panjang sekitar 80 cm dengan diameter sekitar 30-40 cm. Tidk tertutup kemungkinan di lokasi juga ada menhir yang ukurannya lebih besar.

Dilokasi situs tersebut, juga ditemukan artefak berupa beberapa peralatan megaliticum seperti, kapak, penetak dan lainnya yang terbuat dari batu andesit. Peralatan yang biasanya digunakan untuk proses ritual dalam kebudayaan megalitikum ditemukan berserakan dipermukaan tanah.Pada bukit sebelah barat laut punden juga ditemukan pecahan-pecahan tembikar yang diduga berasal dari penghuni pemukiman zaman Islam pada abad ke-13 M. Pada bukit yang lebar dan datar ini tidak ditemukan sisa-sisa susunan bebatuan seperti terdapat pada punden berundak.

Sampai sejauh ini, Tim belum berhasil memperoleh angka yang tepat untuk luas areal situs tersebut karena masih sukar dilakukan pengukuran di lahan yang padat dengan tanaman-tanaman karet dan coklat milik PT. Satya Agung; diperkirakan luas lokasi situs tidak kurang dari 1 hektar.Untuk mendapatkan informasi lebih luas dan rinci mengenai situs ini masih sangat diperlukan penelitian arkeologis yang lebih memadai. Dari itu, kami mengharapkan agar Balai Arkeologi, BP3 Aceh dan dinas kebudayaan baik provinsi maupun kabupaten dapat memberikan tanggapan serius terhadap informasi penemuan tinggalan prasejarah ini, apalagi jika diingat bahwa ancaman terhadap tinggalan sejarah lebih banyak diakibatkan oleh ketidaktahuan dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap tinggalan sejarah yang seharusnya dilestarikan.

"Sementara dari pihak kami, sudah siap bekerja sama dengan pihak-pihak berwenang dalam hal ini agar kemudian berbagai perihal menyangkut situs ini dapat terungkap". Sebab sebagaimana diyakini, situs yang pertama sekali diketemukan dalam jenisnya ini akan memberikan banyak informasi tentang masyarakat pendukung budaya pra-Islam di Samudra Pasai berikut proses Islamisasi yang berlangsung di kawasan ini.

Suatu hal lain yang menjadi catatan Tim adalah keberadaan lokasi situs di tenggara kota kecamatan Simpang Kramat dengan jarak ± 9 km ini juga telah mengangkat kawasan kecamatan tersebut ke posisi kecamatan paling berpotensi kepurbakalaan.Tim akan memberikan perhatian besar terhadap kawasan Simpang Kramat dalam kegiatan penelitiannya ke depan karena sangat boleh jadi bekas kerajaan Buluh Telang yang menjadi target Tim justeru akan dijumpai di kawasan tersebut. Dugaan ini semakin kuat setelah Tim menemukan lintasan kuno melewati bukit Pinto Karoe yang menghubungkan kawasan Simpang Kramat dengan bangunan punden berundak di tepi Krueng Jawa.

Kepada segenap pihak di Simpang Kramat baik masyarakat maupun pemerintah setempat, Tim berharap agar mereka dapat memberikan informasi-informasi yang dianggap penting menyangkut berbagai bentuk tinggalan kepurbakalaan di kawasan tersebut.

Melihat tekad tim peneliti yang mau mengorbankan waktu dan pikiran mereka serta dana pribadi tentunya harus kita acungkan jempol. Tetapi bukan hanya sekedar apreasiasi itu saja, tapi layaknya dukungan semua pihak memang harus diberikan. Terutama pemerintah daerah serta para ilmuwan dari universitas yang ada di Provinsi Aceh. Serta para peneliti luar yang punya keilmuan tentang sejarah. Sehingga kejelasan perjalanan sejarah islam di Aceh tidak lagi terbenam begitu saja seperti saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar