Cinta Sunyi di Tengah Konflik
Laporan : Taufik
KEBENARAN
adalah korban pertama dari sebuah peperangan. Begitu adagium yang
sering kita dengar. Pengalaman kita hidup di Aceh, cinta juga menjadi
korban dari dari sebuah peperangan. Baik cinta dalam pengertian luas,
maupun cinta dalam pengertian sempit, yang terjadi secara bersamaan
dialami Inun dan Yanti dalam novel Cinta Maha Sunyi karya Arafat Nur.
Demikian kata Ayi Jufridar, yang bertindak sebagai pembedah tunggal novel karya wartawan itu bertempat di secretariat Center For Media And Cros-Cultural (CMCS) atau Puat Kajian dan Lintas Budaya, diikuti puluhan peminat sastra yang berasal dari berbagai organisasi seni maupun perorangan.
Dalam
situasi konflik, terkadang manusia harus memilih satu atau lebih buruk
lagi kehilangan kedua-duanya. Konflik bersenjata seringkali membatasi
pilihan. Seperti pilihan Inun yang selalu gamang dengan perasaannya
terhadap Yanti. Pemuda itu selalu kikuk ketika Yanti bermanja-manja
dengannya.
Yanti
mengira Inun adalah kakak kandungnya yang sudah lama merantau ke
Malaysia. Ungkapan cinta justru meluncur lebih dulu dari mulut Yanti,
ketika mereka terjebak dalam baku tembak antara aparat keamanan dengan
gerilyawan GAM. Inun mengakui bahwa ia pun mencintai Yanti. Entah cinta
yang sesungguhnya, atau akibat dorongan situasi.
Jelas
Ayi tentang novel yang berlatarkan situasi perang dengan setting sebuah
desa peladalam di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur, di mana
penulisnya pernah tinggal sembilan tahun lebih hidup berbaur besama suku
pendatang yang membuka lading dan perkebunan.
Orang
seringkali keliru mengindentifikasi perasaannya dalam situasi terdesak,
seperti terjebak dalam kontak senjata yang dialami Inun dan Yanti.
Entah mengapa Inun tidak menyatakan cintanya ketika perang belum
berkecamuk. “Sastra memang sangat peka terhadap tragedi, dan konflik
Aceh adalah sebuah tragedi. Cinta Mahasunyi mengungkap konflik itu dalam
garis besar dan tidak merumitkan masalah,” ucap Ayi.
Sedangkan
penulisnya, Arafat Nur berkomentar, lahirnya novel itu dilatari oleh
tekanan batinnya yang tidak tahan melihat kekerasan. “Penindasan
seringkali terjadi di tempat kita. Banyak alasan orang membenarkan
penindasan terhadap orang lain. Pada dasarnya penindasan itu dilakukan
atas ketidak-puasan seseorang, atau untuk mencapai suatu keinginan
tententu,” kata Arafat.
Penindasan juga terjadi terhadap petani-petani di pedalaman Aceh Timur yang terekam dalam novel Cinta Mahasunyi.
Penindasan itu dilakukan dua kelompok yang berseteru, antara militer
dan pejuang, yang bahkan mereka sama-sama mengaku sebagai pelindung
rakyat.
Tidak
ada alasan apapun bagi petani, dan pendatang-pendatang di sana untuk
membela diri, membela diri atas kepentingan hak-hak hidup, dan hak
lainnya sebagai manusia yang layak. Katanya, saya merekam betul sebuah
situasi yang terjadi dalam sebuah tragedi yang menimpa suku Aceh dan
suku Jawa dengan latar belakang yang berbeda.
Ini
adalah sebuah dunia yang terperangkap, terjadinya pemaksaan-pemaksaan
dan pembunuhan atas nama sebuah ideologi yang tak mau pernah mengerti
terhadap hak-hak manusia lainnya. Dan tragedi itu terjadi dengan
dungunya, dengan segala kebodohan yang semestinya tak perlu dibesarkan.
Perasaan
penulis banyak terlibat dalam novel itu. Terutama setting peristiwa
adalah lingkup dunia yang akrab, yang sejak kecil dapat dirasakan
Arafat. Sosok Inun yang unik dan misteri, juga Yanti yang lugu, begitu
kental dengan pengunungan, yang hijau oleh palawija. “Di sana tersebar
kesunyian, yang kadang menjadi semacam keindahan tersendiri,” jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar